Rabu, 05 Desember 2012

KEBUTUHAN ISTIRAHAT, TIDUR DAN BERMAIN

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Istirahat dan Tidur
A. Istirahat
Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa adanya tekanan emosional, bukan hanya keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti berhenti sebentar untuk melepaskan lelah, bersantai untuk menyegarkan diri, atau suatu keadaan melepaskan diri dari segala hal yang membosankan, menyulitkan bahkan menjengkelkan.
Karakteristik istirahat
Narrow (1967) yang dikutip oleh Perry dan Potter 1993 mengemukakan 6 karakteristik yang berhubungan dengan istirahat diantaranya: Merasakan bahwa segala sesuatu dapat diatasi, merasa ditrima, mengetahui apa yang terjadi, bebas dari gangguan ketidaknyamanan, mempunyai sejumlah kepuasan terhadap aktivitas yang mempunyai tujuan, dan mengetahui adanya bantuan sewaktu memelukan.
Kebutuhan istirahat dapat dirasakan apabila semua karakteristik diatas terpenuhi. Hal ini dapat dijumpai jika pasien merasakan segala kebutuhannya dapat diatasi dan adanya pengawasan maupun penerimaan dari asuhan keperawatan yang diberikan sehingga dapat memberikan kedamaian. Apabila pasien tidak merasakan keenam kriteria diatas, maka kebutuhan istirahatnya masih belum terpenuhi sehingga diperlukan tindakan keperawatan yang dapat meningkatkan terpenuhinya kebutuhan istirahat dan tidur, misalnya mendengarkan secara hati-hati tentang kekhawatiran personal pasien dan mencoba meringankannya jika memungkinkan.
B. Tidur
Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimanaindividu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensoris yang sesuai ( Guyton, 1986), atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
2.2 Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh system pengaktivasi retikularis yang merupakan system yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, reticular activating system (RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin seperti norepneprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan disebabkan adanya pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima dipusat otak dan system limbic. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.
2.3 Jenis-jenis Tidur
Dalam prosesnya, tidur dibagi kedalam 2 jenis. Pertama, jenis tidur yang disebabkan oleh menurunnya kegiatan dalam sistem pengaktivasi reticularis, disebut dengan tidur gelombang lambat (slow wave sleep) karena gelombang otak bergerak sangat lambat atau disebut juga tidur non rapid eye movement (NREM). Kedua, jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran abnormal dari isyarat-isyarat dalam otak meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan secara berarti, disebut dengan jenis tidur paradox atau disebut juga dengan tidur rapd eye movement (REM).
Tidur Gelombang Lambat
Dikenal dengan tidur yang dalam, istirahat penuh atau juga dikenal dengan tidur nyenyak. Pada tidur jenis ini, gelombang otak bergerak lebih lambat sehingga menyebabkan tidur tanpa bermimpi. Tidur gelombang lambat biasa disebut juga tidur gelombang delta, dengan ciri-ciri: betul-betul istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi napas menururn, pererakan bola mata melambat, mimpi berkurang dan metabolism menurun.
Perubahan selama proses tidur gelombang lambat adalah melalui elektroensefalografi dengan memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap tidur, yaitu: pertama, kewaspadaan penuh dengan gelombang beta yang berfrekuensi tinggi dan bervoltase rendah; kedua, istirahat tenang yang diperlihatkan pada gelombang alfa; ketiga, tidur ringan karena terjaid perlambatan gelombang alfa ke jenis teta atau delta yang bervoltase rendah; dan keempat, tidur nyenyak karena gelombang lambat dengan gelombang delta bervoltase tinggi dengan kecepatan 1-2 per detik.
Tahapan tidur jenis gelombang lambat:
a. Tahap I. Tahap I merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri: rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung selama 5 menit.
b. Tahap II. Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri: mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolism menurun, berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.
c. Tahap III. Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi napas dan proses tubuh lainnya lambat, disebabkan oleh adanya dominasi sistem saraf parasimpatis dan sulit untuk bangun.
d. Tahap IV. Tahap IV merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan pernapasan turun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambung menurun dan tonus otot menurun.
Tidur Paradoks
Tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur malam yang terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi selama 80-100 menit, akan tetapi apabila kondisi orang sangat lelah, maka awal tidur sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada. Ciri tidur paradoks:
1. Biasanya disertai dengan mimpi aktif
2. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak gelombang lambat
3. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis.
4. Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
5. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur
6. Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat dan metabolisme meningkat
7. Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.
Siklus tidur normal adalah:
Bangun NREM I NREM II  NREM III    NREM IV

NREM II                    NREM II         NREM III
    REM
2.4 Fungsi dan Tujuan Tidur
Fungsi dan tujuan tidur secara jelas tidak diketahui, akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan, mengurangi stress pada paru, kardiovaskular, endokrin, dan lain-lain. Energi disimpan selama tidur, sehingga dapat diarahkan kembali pada fungsi seluler yang penting. Secara umum terdapat 2 efek fisiologis dari tidur. Pertama, efek pada sistem saraf yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan diantara berbagai susunan saraf, dan kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh karena selama tidur terjadi penurunan.

Kebutuhan Tidur
Usia Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan Tidur
0 - 1 bulan Masa Neonatus 14-18 jam/hari
1 bulan - 18 bulan          Masa Bayi 12-14 jam/hari
18 bulan - 3 tahun Masa Anak 11-12 jam/hari
3 tahun - 6 tahun Masa Prasekolah 11 jam/hari
6 tahun - 12 tahun Masa Sekolah 10 jam/hari
12 tahun - 18 tahun Masa Remaja 8,5 jam/hari
18 tahun - 40 tahun Masa Dewasa Muda 7-8 jam/hari
40 tahun - 60 tahun Masa Paruh Baya 7 jam/hari
60 tahun ke atas Masa Dewasa Tua 6 jam/hari

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Tidur
Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya adalah:
1. Penyakit. Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan tidur, misalnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi (infeksi limfa) akan memerlukan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur.
2. Latihan dan Kelelahan. Kelelahan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energy yang telah dikeluarkan. Hal tersebut terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya diperpendek.
3. Stres Psikologis. Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorangakibat ketegangan jiwa. Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memilik masalah psikologis mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
4. Obat. Obat dapat juga memepengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jeniss golongan obat diuretic menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM, kafein daapt meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia dan golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.
5. Nutrisi. Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya tryptophan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga mempengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur.
6. Lingkungan. Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang daapt mempercepat terjadinya proses tidur.
7. Motivasi. Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
2.6 Masalah Kebutuhan Tidur
1. Insomnia. Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi 3 jenis, yaitu: initial insomnia merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau mengawali tidur; intermiten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur karena selalu terbangun pada malam hari; dan terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali setelah bangun tidur pada malam hari. Proses gangguan tidur ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya rasa khawatir, tekanan jiwa ataupun stress.
2. Hipersomnia. Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan criteria tidur berlebihan, pada umumnya lebih dari 9 jam pada malam hari, disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis, depresi, kecemasan, gangguan susunan saraf pusat, ginjal, hati dan gangguan metabolisme.
3. Parasomnia. Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur, seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjad pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM. Somnambulisme ini dapat menyebanbkan cedera.
4. Enuresa. Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur, atau disebut juga dengan istilah mengompol. Enuresa dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: enuresa nocturnal merupakan mengompol di waktu tidur; dan enuresa diurnal, mengompol pada saat bangun tidur. Enuresa nocturnal umumnya merupakan gangguan pada tidur NREM.
5. Apnea Tidur dan Mendengkur. Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah. Mendengkur sendiri disebabkan oleh adanya rintangan dalam pengaliran udara di hidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya disebabkan oleh adanya adenoid, amandel atau mengendurnya otot di belakang mulut. Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya pernapasan sehingga dapat mengakibatkan henti napas. Bila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
6. Narcolepsi. Narcolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur, misalnya tertidur dalam keadaan berdiri, mengemudikan kendaraan, atau disaat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis.
7. Mengigau. Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan di luar kebiasaan. Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa hamper semua orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM.
8. Gangguan pola tidur secara umum. Merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami atau mempunyai risiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan (Carpenito, LJ, 1995). Gangguan ini terlihat pada pasien dengan kondisi yang memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman didaerah sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala, dan sering menguap atau mengantuk. Penyebab dari gangguan pola tidur ini antara lain kerusaka transport oksigen, gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, pengaruh obat, immobilitas, nyeri pada kaki, takut operasi, faktor lingkungan  yang menggangu dan lain-lain.
2.7 ASKEP pada Masalah Istirahat dan Tidur
A. Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat Tidur. Pengkajian riwayat tidur antara lain: kuantitas (lama tidur) dan kualitas tidur di siang maupun malam hari, aktivitas dan rekreasi yang dilakukan sebelumnya, kebiasaan sebelum ataupun pada saat tidur, lingkungan tidur dengan siapa pasien tidur, obat yang dikonsumsi sebelum tidur, asupan dan stimulant, perasaan pasien mengenai tidurnya, apakah ada kesulitan tidur dan apakah ada perubahan pola tidur.
2. Gejala klinis. Ditandai dengan perasaan lelah, gelisah, emosi, apatis, adanya kehitaman di daerah sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah dan mata perih, perhatian tidak focus serta sakit kepala.
3. Penyimpangan Tidur. Meliputi perubahan tingkah laku dan auditorik, meningkatnya kegelisahan, gangguan persepsi, halusinasi visual dan auditorik, bingung dan disorientasi tempat dan waktu, gangguan koordinasi, serta bicara rancu, tidak sesuai dan intonasinya tidak teratur.
B. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan: Kerusakan transpor oksigen, gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, pengaruh obat, immobilitas, nyeri pada kaki, takut operasi, lingkungan yang mengganggu.
2. Cemas berhubungan dengan ketidakmampuan untuk tidur, henti napas saat tidur (sleep apnea), dan ketidakmampuan mengawasi perilaku.
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia
4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan henti napas saat tidur
5. Potensial cedera berhubungan dengan somnambolisme
6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangan tidur hipersomnia.
C. Perencanaan Keperawatan
Tujuan: Perencanaan Keperawatan berhubungan dengan cara untuk mempertahankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam batas normal. Rencana Tindakan:
Lakukan identifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur
Lakukan pengurangan distraks lingkungan dan hal-hal yang dapat mengganggu tidur
Tingkatkan aktivitas pada siang hari
Coba untuk memicu tidur (induce sleep)
Kurangi potensial cedera selama tidur
Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika diperlukan.
D. Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatan
Tindakan Keperawatan pada Orang Dewasa
1. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur
Faktor-faktor yang memyebabkan gangguan tidur bermacam-macam. Biasanya pasien dapat mengidentifikasi penyebab masalah-masalah gangguan tidur, seperti nyeri, takut, kecemasan, dan lain-lain. Perawat dan pasien dapat mengidentifikasi penyebab atau mengkaji riwayat tidur pasien.
a. Apabila terjadi pada pasien rawat inap, masalah tidur dihubungkan dengan lingkungan rumah sakit dan penyakitnya, maka tindakan yang diberikan: Libatkan pasien dalam membuat jadwal aktivitas, Berikan obat analgesik sesuai dengan program terapi, Berikan lingkungan yang suprortif, serta Jelaskan dan berikan dukungan kepada pasien agar tidak takut dan cemas.
b. Apabila faktor insomnia, maka hal yang dapat dilakukan:
Anjurkan pasien untuk makan makanan berprotein tinggi sebelum tidur seperti keju dan susu.
Anjurkan pasien untuk tidur pada waktu yang sama dan hindari tidur di siang atau sore hari
Anjurkan pasien untuk tidur hanya saat mengantuk dan tidak pada waktu kesadaran masih penuh
Anjurkan pasien untuk menghindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur
Anjurkan pasien untuk  menggunakan teknik pelepasan otot serta meditasi sebelum tidur
c. Apabila terjadi somnambulisme, maka tindakannya: berikan keamanan pada diri pasien dengan melindunginya dari lingkungan yang tidak aman misalnya memasang kunci pintu yang baik, lakukan kolaborasi dalam tindakan pengobatan dengan diazepam, serta cegah timbulnya cedera.
d. Apabila terjadi anuresa, maka tindakannya: anjurkan pasien untuk mengurangi minum beberapa jam sebelum tidur, anjurkan pasien untuk melakukan pengosongan kandung kencing sebelum tidur, serta bangunkan pasien pada malam hari untuk buang air kecil.
e. Apabila terjadi narkolepsi, maka tindakannya: berika obat seperti kelompok amfetamin atau kelompok metilfenidat hidroklorida (ritalin) yang digunakan untuk mengendalikan narkolepsi sebagai tindakan kolaboratif.
2. Mengurangi distraksi lingkungan dan hal-hal yang mengganggu tidur.
Distraksi lingkungan adalah masalah utama untuk pasien rawat inap. Cara mengurangi distraksi lingkungan adalah: Tutup pintu kamar pasien, pasang kelambu/gorden tempat tidur, matikan pesawat telepon, bunyikan misik yang lembut, redupkan atau matikan lampu, berikan lampu tidur (malam), kurangi jumlah stimulus, dan tempatkan pasien dengan kawan sekamar yang cocok.
      3. Meningkatkan aktivitas pada siang hari. Buat jadwal aktivitas yang dapat menolong pasien. Jadwal harus disesuaikan dengan status kesehatan pasien atau sesuai dengan kebutuhan istirahat dan tidur. Usahakan pasien tidak banyak tidur pada siang hari karena jika banyak tidur pada siang hari, malamnya tidak bisa tidur.
      4. Membuat pasien untuk memicu tidur
Anjurkan pasien untuk mandi sebelum tidur, Anjurkan pasien untuk minum susu hangat, Anjurkan pasien untuk membaca buku, Anjurkan pasien untuk menonton televise, Anjurkan pasien untuk menggosok gigi sebelum tidur, Anjurkan pasien untuk membersihkan meka senelum tidur, Anjurkan pasien untuk membersihkan tempat tidurnya terlebih dahulu sebelum tidur.
      5. Mengurangi potensial cedera selama tidur.
Banyak pasien takut untuk pergi tidur karena takut jatuh dari tempat tidur, takut untuk jalan ke kamar mansi atau tersandung furnitur. Cara penanganan yang spesifik adalah: Gunakan cahaya lampu malam, posisikan tempat tidur yang rendah, letakkan bel dekat pasien, ajarkan pasien bagaimana cara meminta bantuan, jika pasien menggunakan selang drainase maka gantungkan di tempat tidur dan ajarkan bagaimana cara memindahkannya.
     6. Memindahkan pendidikan kesehatan dan rujukan
Ajarkan rutinitas jadwal tidur di rumah dengan cara mengatur jadwal bekerja, istirahat, tidur dan bangun paa waktunya; ajarkan pentingnya latihan regular kurang lebih ½ jam tiap tiga kali seminggu untuk menurunkan stress dan meningkatkan tidur, jelaskan bahwa obat hipnotik tidak boleh digunakan unutk jangka waktu yang lama karena berisisko terhadap terjadinya toleransi obat, apabila gangguan tidur kronis lakukan rujukan segera, untuk wanita hamil ajarkan untuk tidak berdiri jika mampu duduk lalu tinggikan kaki ketika duduk serta jangan duduk jika bisa tidur kemudian sesuaikan jadwal untuk bisa tidur siang dan lain-lain.
Tindakan Keperawatan pada Anak
1. Masa neonatus dan bayi. Beri sprei yang kering dan tebal untuk menutupi perlak dan buat permukaan kasur tegang dan rata, hindarkan pemberian bantal yang terlalu banyak, atur suhu ruangan sekitar 18-210 c pada malam hari dan 15.5-180 c pada siang hari serta hindarkam pasien dari angin dan pakaikan selimut, berikan cahaya lampu yang lembut, yakinkan bahwa bayi merasa nyaman dan kering, berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi misalnya membelai, meminang bersenandung dan berikan lingkungan yang nyaman.
2. Masa Anak. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang hari secara konsisten, tempel jadwal tidur, berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur, dukung aktivitas “pereda ketegangan” seperti bercerita dan memberikan mainan.
3. Masa sebelum sekolah. Berikan kebiasaan waktu tidur malam san siang secara konsisten, tempel jadwal tidur, berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur, dukung aktivitas “pereda ketegangan” seperti bercerita dan memberikan mainan, sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur, dorong pasien untuk mengekspresikan ketakutannya dan jelaskan bahwa perawat selalu dekat dengannya, nyalakan lampu yang agak terang.
4. Masa Sekolah. Perawat perlu mengingatkan waktu istirahat dan tidur karena anak pada usia ini memiliki banyak aktivitas.
5. Masa remaja. Usia ini sering memerlukan waktu sebelum tidur yang cukup lama unutk berdandan dan membersihkan diri.
6. Masa dewasa (muda, paruh baya dan tua)
a. Bantu pasien melepaskan ketegangan sebelum tidur. Berikan hiburan, kurangi rasa nyeri, bersihkan tempat tidur sehingga tempat tidur nyaman dan bebas dar bau-bauan.
b. Sediakan lingkungan dimana pasien merasa aman dan nyaman serta dekat dengan perawat. Berikan selimut sehingga tidak kedinginan, anjurkan pasien untuk latihan relaksasi, berikan makanan ringan atau susu hangat sebelum tidur, berikan obat sedatif sesuai dengan program terapi kolaborasi, bantu pasien untuk mendapatkan posisi tidur yang nyaman.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan tidur dan istirahat dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam memenuhi:
1. Jumlah tidur, apakah sesuai dengan kebutuhan
2. Faktor-faktor yang mencegah gangguan tidur
3. Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan tidur
4. Mendemonstrasikan adanya keseimbangan istirahat dan tidur sesuai dengan status kesehatan pasien
5. Hilangnya tanda klinis gangguan tidur dan penyimpangan pada pasien, seperti timbulnya perasaan segar, tidak gelisah, lesu dan apatis, hilangnya kehitaman di daerah sekitar mata, mulai menghilangnya kelopak mata yang bengkak, tidak adanya konjungtiva merah dan nata paerih, pasien sudah dapat berkonsentrasi penuh serta tidak ditemukan gangguan proses berpikir, bicara dan lain-lain.
2.8 Definisi Bermain
Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intlektual, kreativitas dan sosial. Anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain akan menjadi orang dewasa yang mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain (Soetjiningsih, 1995).
Pengertian lain mengenai bermain disampaikan oleh Foster dan Pearden yang didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang anak secara sungguh-sungguh sesuai dengan keinginannya sendiri/tanpa paksaan dari orang tua maupun lingkungan dimana dimaksudkan semata hanya untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan (Riyadi & Sukarmin, 2009).
Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stres pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak (Champbell & Glaser, 1995). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, media yang baik bagi anak untuk belajar berkomunikasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri terhadap lingkungan, belajar mengenal dunia sekitar kehidupannya, dan penting untuk meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak (Supartini, 2004).

2.9 Fungsi Bermain
Menurut Supartini (2004), bermain mempunyai fungsi antara lain:
1) Perkembangan intelektual
Anak dapat mengeksplorasi dan memanipulasi ukuran, bentuk, tekstur dan warna. Mengenali angka, hubungan yang renggang dan konsep yang abstrak. Bermain memberi kesempatan untuk menghilangkan pengalaman masa lalu untuk memasukkan kedalam persepsi dan persahabatan yang baru. Bermain membantu anak untuk mengintegrasikan dunia dimana mereka tinggal, untuk membedakan antara realitas dan fantasi.
2) Perkembangan social
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktifitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang nilai sosial yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia todler dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktifitas sosialnya di luar lingkungan keluarga.
3) Perkembangan kreativitas
Bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengeluarkan ide dan minat kreasi, mengijinkan mereka untuk berfantasi dan berimajinasi serta memberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat. Sekali anak merasa puas ketika berhasil melakukan sesuatu hal yang baru maka anak akan memindahkan rasa ketertarikan ini kedalam situasi di luar dunia bermainnya.
4) Perkembangan kesadaran diri
Bermain memberikan kemampuan untuk membandingkan kemampuan sendiri dengan kemampuan anak lain dan belajar bagaimana pengaruh tingkah laku pribadi terhadap orang lain.
5) Perkembangan moral
Anak mempelajari nilai benar salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan guru. Melalui kegiatan bermain anak akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya, berebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Oleh karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau benar/salah.
6) Bermain sebagai terapi
Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Adapun bentuk permainan di rumah sakit yang sesuai dengan usia awal masa kanak-kanak (todler dan prasekolah) (Mott et al.,1990) antara lain:
1) Anak usia 2-3 tahun
Bermain balok, mainan bersusun, bola, alat permainan yang lembut, mendorong dan menarik alat mainan, mendengar cerita, musik dan puzzle yang sederhana.
2) Anak usia 3-4 tahun
Bermain puzzle, balon, musik, bercerita, bermain game sederhana, belajar bermain kelompok dengan pengawasan orang dewasa, permainan pura-pura memasak, bermain pura-pura menjadi dokter, perawat dan lain-lain.
3) Anak usia 4-5 tahun
Bermain game, menyobek kertas, memotong dengan gunting, mewarnai buku-buku bergambar, menggunakan kertas dibuat boneka, topeng dan perahu, mainan alat musik, bermain games dengan bantuan orang dewasa dalam mengikuti aturan permainan.
2.10 Bermain dalam Masa Perawatan di Rumah Sakit
Perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stres, baik bagi anak maupun orang tua. Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit itu sendiri merupakan penyebab stres bagi anak dan orang tuanya, baik lingkungan fisik rumah sakit seperti bangunan/ruang rawat, alat-alat, bau yang khas, pakaian putih petugas kesehatan maupun lingkungan sosial, seperti sesama pasien anak, ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri. Perasaan, seperti takut, cemas, tegang, nyeri, dan perasaan tidak menyenangkan lainnya, sering kali dialami anak.
Untuk itu, anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan perasaan tersebut dan mampu bekerjasama dengan petugas kesehatan selama dalam perawatan. Media yang paling efektif adalah melalui kegiatan permainan. Permainan yang terapeutik didasari oleh pandangan bahwa bermain bagi anak merupakan aktivitas yang sehat dan diperlukan untuk kelangsungan tumbuh-kembang anak dan memungkinkan untuk dapat menggali dan mengekspresikan perasaan dan pikiran anak, mengalihkan perasaan nyeri, dan relaksasi. Dengan demikian, kegiatan bermain harus menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan anak di rumah sakit (Brennan, 1994).  Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di rumah sakit akan memberikan keuntungan sebagai berikut:
1) Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat karena dengan melaksanakan kegiatan bermain, perawat mempunyai kesempatan untuk membina hubungan yang baik dan menyenangkan dengan anak dan keluarganya. Bermain merupakan alat komunikasi yang efektif antara perawat dan klien.
2) Perawat di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3) Permainan anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih dan tegang, dan nyeri. Pada beberapa anak yang belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran secara verbal dan/atau pada anak yang kurang dapat mengekspresikannya, permainan menggambar, mewarnai, atau melukis akan akan membantunya mengekspresikan perasaan tersebut.
4) Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif.
5) Permainan yang memberi kesempatan pada beberapa anak untuk berkompetisi secara sehat, akan dapat menurunkan ketegangan pada anak dan keluarganya.
Adapun tujuan bermain di rumah sakit menurut Soetjiningsih (1998), antara lain:
1) Dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stres di rumah sakit.
2) Dapat melanjutkan tumbuh kembang selama perawatan di rumah sakit.
3) Dapat mengembangkan kreativitas melalui pengalaman bermain yang tepat.

Menurut Wholey & Wong (1996), beberapa fungsi bermain di rumah sakit yaitu:
1) Memberi kesempatan anak belajar tentang bagian-bagian tubuh, fungsi dan penyakitnya sendiri.
2) Membantu anak merasa lebih nyaman di lingkungan yang asing.
3) Memberikan hiburan dan membantu relaksasi.
4) Membantu melepaskan ketegangan dan mengekspresikan perasaan.
5) Mendorong perkembangan dan interaksi yang baik.
6) Cara untuk melepaskan ide yang kreatif.
7) Melanjutkan tujuan pengobatan.
8) Mengurangi kecemasan.
2.11 Prinsip Permainan Anak di Rumah Sakit
1) Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh di ajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruangan rawat.
 2) Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana. Pilih jenis permainan yang tidak melelahkan anak, menggunakan permainan yang ada pada anak dan/atau yang tersedia di ruangan. Kalaupun akan membuat suatu alat permainan, pilih yang sederhana supaya tidak melelahkan anak (misalnya, menggambar atau mewarnai, bermain boneka, dan membaca buku cerita).
3) Permainan yang harus mempertimbangkan keamanan anak. Pilih alat permainan yang aman untuk anak, tidak tajam, tidak merangsang anak untuk berlari-lari, dan bergerak secara berlebihan.
4) Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama. Apabila permainan khusus dilakukan di kamar bermain secara berkelompok, permainan harus dilakukan pada kelompok umur yang sama. Misalnya, permainan mewarnai pada kelompok usia prasekolah.
5) Melibatkan orang tua. Satu hal yang harus diingat bahwa orang tua mempunyai kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuh-kembang pada anak walaupun sedang dirawat di rumah sakit, termasuk dalam aktivitas bermain anaknya.
Untuk itu, kegiatan bermain harus diprogram dengan baik di rumah sakit. Pada beberapa negara maju, kegiatan bermain pada anak di rumah sakit di koordinasi oleh nurse play specialist, yaitu perawat yang mempunyai kompetensi khusus dalam melaksanakan program bermain, yang bekerja sama secara kolaboratif dengan perawat dan dokter anak di ruang rawat. Ia yang mempersiapkan program bermain sebagi terapi bagi anak yang akan menghadapi operasi, anak-anak yang akan dilakukan prosedur diagnostik khusus, atau program bermain rutin sehari-hari bagi anak di rumah sakit. Apabila tidak ada tenaga khusus yang dapat memprogramkan kegiatan bermain pada anak di rumah sakit, perawat bertugas untuk melaksanakannya (Supartini, 2004).
Teknik bermain di rumah sakit menurut Petrillo & Sangen (1990), meliputi:
1) Berikan alat permainan yang merangsang anak bermaian sesuai dengan umur dan perkembangannya.
2) Berikan cukup waktu untuk bermain dan menghindari interupsi.
3) Berilah mainan yang dapat menurunkan emosi anak.
4) Tentukan kapan anak boleh keluar atau turun dari tempat tidur sesuai kondisi anak.
5) Gunakan pengetahuan tentang tumbuh kembang anak dalam bermain.
2.12 Bermain Teraupetik
Semua bentuk permainan terstruktur yang telah ditemukan dapat mempermudah home sicknes, melepas ketakutan/gugup, dan menyediakan jalan keluar berupa ide-ide konstruktif dan aktifitas (Hide, 1971; Latimer, 1978; cit Zahr, 1998). Bermain terapeutik dapat membantu perawat dan anggota staf yang lain untuk memperoleh insight terhadap pikiran dan perasaan anak, suka dan ketidaksukaan, keinginan dan kebutuhan anak, selama menemani anak untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh suatu pengalaman (Oremland, 1988;cit Mott et al, 1990).
2.13 ASKEP Keluarga pada Anak Usia Sekolah dengan Gangguan Bermain
Dalam tahap pengkajian, data yang perlu diperoleh oleh perawat, yaitu data yang berhubungan dengan keluarga dan anak meliputi:
A.  PENGKAJIAN
1.    Data Umum
•      Kepala Keluarga (KK)
•      Alamat dan telepon
•      Pekerjaan KK
•      Pendidikan KK
•      Komposisi keluarga
•      Tipe keluarga
•      Status sosial ekonomi keluarga
•      Aktivitas rekreasi keluarga
2.    Riwayat
•       Tahap perkembangan keluarga saat ini
•       Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
•       Riwayat kesehatan keluarga inti
•       Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
3.    Data lingkungan
•       Karakteristik rumah
•       Karakteristik tetangga dan komunitasnya
•       Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
•       Sistem pendukung keluarga
4.    Struktur keluarga
•       Struktur peran
•       Nilai atau norma keluarga
•       Pola komunikasi keluarga
•       Struktur kekuatan keluarga
5.    Fungsi keluarga
•      Fungsi ekonomi
•      Fungsi mendapatkan status sosial
•      Fungsi pendidikan
•      Fungsi sosialisasi
•      Fungsi pemenuhan (perawatan atau pemeliharaan) kesehatan
•      Fungsi religius
•      Fungsi rekreasi
•      Fungsi reproduksi
•      Fungsi afeksi
6.    Stres dan koping keluarga
7.    Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga
8.    Harapan keluarga
B.  Diagnosis  dan intervensi keperawatan
Setelah pengkajian, perawat mengklasifikasikan data untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Pada asuhan keperawatan keluarga, diagnosis keperawatan yang muncul dapat dua sifat, yaitu yang berhubungan dengan anak bertujuan agar anak dapat tumbuh dan berkermbang secara optimal sesuai usia anak dan yang berhubungan dengan keluarga dengan penyebab (etiologi) berpedoman pada lima tugas keluarga di bidang kesehatan yang bertujuan agar keluarga memahami dan memfasilitasi perkembangan anak. Masalah dalam diagnosis keperawatan merupakan kebutuhan dasr klien (manusia) yang tidak terpenuhi.
C.  Contoh rencana asuhan keperawatan
1.    Menurunnya atau berkurangnya minat terhadap tugas sekolah yang dibebankan berhubungan dengan anak terlalu asik bermain
Tujuan : anak mau meningkatkan lama waktu belajarnya dan mengurangi waktu bermain
Intervensi :
a.    Anjurkan keluarga untuk membuat kesepakatan tentang waktu bermain dan belajar
b.    Beri penjelasan pada anak tentang perlunya belajar dan sekolah
c.    Anjurkan anak untuk mengurangi waktu bermain
d.   Anjurkan orang tua agar mau menemani atau membantu anak belajar
e.    Anjurkan orang tua untuk memberikan hukuman jika anak tidak mau belajar dan memberikan pujian jika anak mau belajar
2.    Gangguan pemenuhan kebersihan diri berhubungan dengan terlalu banyak waktu yang digunakan untuk bermain
Tujuan : anak mau melakukan aktivitas kebersihan diri sesuai aturan keluarga
Intervensi :
a.    Beri penjelasan pada anak tentang perlunya menjaga kebersihan diri
b.    Beri penjelasan pada anak tentang bahayanya tidak menjaga kebersihan diri
c.    Anjurkan anak untuk disiplin dalam menaati peraturan keluarga tentang
d.   Beri pemahaman kepada keluarga tentang perlunya kedisiplinan dalam menjaga kebersihan diri
3.    Berontak/menantang terhadap peraturan keluarga berhubungan dengan larangan bermain dari orang tua
Tujuan : anak mau mematuhi perintah orang tua
Intervensi :
a.    Beri penjelasan pada anak tentang pentingnya mendengarkan perintah orang tua
b.    Beri penjelasan pada anak tentang pentingnya mematuhi peraturan keluarga
c.    Beri penjelasan pada anak tentang perlunya menaati peraturan tentang jam bermain anak
d.   Anjurkan pada orang tua agar tidak memarahi anaknya jika berbuat salah tetapi mengingatkan atau memberi hukuman yang edukatif
4.    Menarik diri dari lingkungan sosial (menyendiri) berhubungan dengan terlalu asik bermain video game
Tujuan : anak mau bersosialisasi dengan teman sebayanya
Intervensi :
a.    Beri penjelasan pada anak tentang perlunya bersosialisasi dengan teman sebayanya
b.    Anjurkan anak untuk bermain bersama temannya
c.    Anjurkan anak untuk mengurangi waktu bermain video game
d.   Anjurkan orang tua untuk memberikan dukungan pada anak agar anak mau bermain dengan teman-temannya.
D.  Evaluasi Keperawatan
Tahap selanjutnya adalah melakukan evaluasi, berdasarkan tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan kriteria hasil yang telah diterapkan sebelumnya. Saat evaluasi perawat hendaknya selalu memberi kesempatan keluarga untuk menilai keberhasilannya, kemudian diarahkan sesuai  dengan tugas keluarga di bidang kesehatan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untul mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal. Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang baik untuk kesehatan. Namun dalam kondisi sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu.
3.2 Saran
Sebagai calon perawat kita diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan pada anak usia sekolah dengan gangguan bermain sesuai protap asuhan keperawatan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
http://herodessolutiontheogeu.blogspot.com/2010/11/tingkat-pengetahuan-dengan-sikap-orang.html
http://nswahyunc.blogspot.com/2012/04/askep-keluarga-dengan-anak-gangguan.html

Categories:

0 komentar:

Poskan Komentar