Kamis, 15 November 2012

HORMON PERTUMBUHAN (SOMATOTROPIN)

Somatotropin adalah hormon polipeptida yang memiliki berat molekul 22.000. Hormon ini merupakan 10% dari berat kelenjar hipofisis kering. Hormon polipeptida berasal dari protein berupa 191 rantai asam amino yang disintesis, disimpan dan dilepaskan oleh sel somatotroph di dalam sayap anterior kelenjar pituari. Somatotropin disingkat GH untuk hewan dan rhGH untuk manusia karena faktor DNA rekombinan.
Somatotropin berperan dalam mengendalikan pertumbuhan tulang, otot dan organ serta memengaruhi kecepatan pertumbuhan tubuh dengan memberikan stimulasi kepada hati untuk mensekresi hormon somatomedin, sebuah hormon perkembangan yang memberikan stimulasi lebih lanjut terhadap sel untuk berkembang biak. Seseorang yang kelebihan hormon ini akan mengalami pertumbuhan luar biasa yang disebut gigantisme pada anak dan akromegali pada orang dewasa. Orang yang kekurangan hormon ini akan mengalami kekerdilan (dwarfisme). Hormon ini dikeluarkan oleh hipofisis. Disamping hormone pertumbuhan, beberapa hormone lain juga berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan normal yaitu hormone tiroid, insulin, androgen dan estrogen.
Pemberian hormone pertumbuhan pada pasien hipopituitarisme menyebabkan pertumbuhan normal apabila pengobatan dimulai cukup dini. Pematangan alat kelamin tidak terjadi tanpa pemberian hormone kelamin atau gonadotropin. Gigantisme dan akromegali tidak pernah dilaporkan terjadi akibat terapi dengan hormone ini.
Hormon Pertumbuhan Manusia akan berkurang seiring dengan pertambahan usia. Pada umur 60 tahun volume Hormon Pertumbuhan hanya tinggal sebesar 25% jika dibandingkan dengan usia 21 tahun. Faktor-faktor yang membuat proses penuaan manusia jauh lebih cepat dari yang seharusnya adalah factor pola hidup yang tidak sehat.
EFEK TERHADAP METABOLISME
    Hormon pertumbuhan memiliki efek penting pada metabolisme protein, lipid dan karbohidrat dengan mekanisme kerja belum jelas. Hormon lain yaitu insulin, glukokortikoid, katekolamin dan glucagon juga berpengaruh terhadap pengaturan zat-zat ini. Dalam beberapa kasus, efek langsung hormon pertumbuhan telah jelas menunjukkan, pada orang lain, IGF-I dianggap sebagai mediator kritis, dan beberapa kasus tampak bahwa efek baik langsung dan tidak langsung yang berperan.
    Pengaruh hormone ini terhadap metabolism karbohidrat saling berkaitan sehingga sukar dirinci satu persatu. Hormon pertumbuhan memperlihatkan efek anti-insulin yaitu meninggikan kadar gula darah, tetapi disamping itu juga berefek seperti insulin yaitu menghambat penglepasan asam lemak dan merangsang ambilan asam amino oleh sel. Efek ini sebagian besar mungkin dipengaruhi oleh somatomedin C atau disebut juga IGF-1 (insulin like growth factor 1) dan sebagian kecil oleh IGF-2 (insulin like growth factor 2).
    Hormon pertumbuhan terbukti berpengaruh pada penyakit diabetes mellitus. Pasien diabetes sangat sensitive terhadap terjadinya hiperglikemiaoleh hormone pertumbuhan. Pada pasien bukan diabetes mellitus, hormone ini dapat diberikan dalam dosis besar tanpa menyebabkan hiperglikemia, bahkan sebaliknya kadang-kadang dapat menyebabkan hipoglikemia pada pemberian akut karena mempermudah glikogenesis. Pada keadaan lapar, hormone pertumbuhan menyebabkan mobilisasi lemak dari depot lemak untuk masuk ke peredaran darah. Hormon ini sepertinya mengalihkan sumber energy dari karbohidat ke lemak.
    Hormon pertumbuhan memperlihatkan keseimbangan positif untuk N, P, Na, K, Ca dan Cl, unsure-unsur terpenting untuk membangun jaringan baru. Nitrogen terutama terdapat dalam asam amino dibawah pengaruh hormone pertumbuhan jumlah asam amino yang dibawa ke dalam jaringan untuk membentuk protein meningkat, sehingga kadar N dalam darah (urea) menurun, sesuai dengan efek anaboliknya.
    Efek GH terhadap pertumbuhan terutama terjadi melalui peningkatan produksi IGF-1, terutama dibentuk dalam hepar. Selain itu GH juga merangsang produksi IGF-1 di tulang, tulang rawan, otot dan ginjal. GH merangsang pertumbuhan longitudinal tulang sampai epifisis menutup, hampir saat akhir pubertas.
    Baik pada anak-anak ataupun dewasa, GH mempunyai efek anabolic pada otot dan katabolic pada sel-sel lemak sehingga terjadi peningkatan masa otot dan pengurangan jaringan lemak terutama di daerah pinggang. Terhadap Metabolisme karbohidrat, GH dan IGF-1 mempunyai efek yang berlawanan pada sensitivitas terhadap insulin.
    GH menurunkan sensitifitas terhadap insulin sehingga terjadi hiperinsulnemia. Sebaliknya, pada pasien yang tidak sensitive terhadap GH karena mutasi receptor, IGF-1 bekerja melalui receptor IGF-1 dan receptor insulin mengakibatkan penurunan kadar insulin dan kadar glukosa.
PENGATURAN
    Sekresi hormone pertumbuhan secara fisiologis diatur oleh hipotalamus factor penglepas hormone pertumbuhan (GHRF = Growth Hormone Releasing Factor) yang merangsang sekresi hormone pertumbuhan. Selain itu dalam hipotalamus juga dijumpai Stomatosatin (GH-RIH = growth hormone releasing inhibator hormone) yang menghambat sekresi beberapa hormone antara lain hormone pertumbuhan. Dengan demikian, hipotalamus memegang peran dwifungsi dalam pengaturan hormone ini.
    Pada waktu istirahat sebelum makan pagi, kadar hormone pertumbuhan 1-2 ng/mL, sedangkan pada keadaan puasa sampai 60 jam, meningkat perlahan mencapai 8 ng/mL. Kadar ini selalu meningkat segera setelah seseorang tertidur lelap. Pada orang dewasa, kadar hormone pertumbuhan meningkat terutama pada waktu tidur, sedangkan pada remaja juga meningkat pada waktu bangun. Kadar pada anak dan remaja lebih tinggi dibanding kadar pada dewasa dan puncak terjadi pada saat remaja. Sekresi GH bervariasi sepanjang kehidupan bahkan juga 24 jam. Oleh karena itu pemeriksaan kadar GH sesaat tidak berarti untuk menegakan diagnosis defisiensi dan perlu dilakukan tes provokasi.
    Pada anak, hipoglikemia merupakan perangsang yang kuat sehingga menyebabkan kadar homon pertumbuhan meningkat. Pada hipoglikemia karena insulin misalnya, kadar hormone pertumbuhan mencapai 50 ng/mL. Kerja fisik, stress dan rangsangan emosi merupakan perangsangan (stimulus) fisiologis untuk meningkatkan sekresi hormone ini.
    Beberapa obat dan neurotransmitter dapat mempengaruhi sekresi hormone pertumbuhan, mungkin dengan jalan mempengaruhi sekresi/aktivitas zat-zat pengatur hormone ini. Pada orang normal, glukokortikoid dosis besar menghambat sektesi hormone pertumbuhan. Kemungkinan besar inilah salah satu sebab mengapa pemberian glukokortikoid pada anak menghambat pertumbuhan.
    Sekersi hormone pertumbuhan yang berlebihan dapat ditekan dengan pemberian agonisdopamin. Dopamin diketahui merangsang sekresi hormone pertunmbuhan pada orang normal, tetapi pada akromegalidopamin justru menghambat sekresi hormone tersebut. Bromokriprin, suatu agonisdopamin derivat ergot, dipakai untuk menekan sekresi hormone pertumbuhan pada pasien tumor hipofisis. Efek bromokriptin tidak segera terlihat, penurunan kadar hormone dalam darah terjadi setelah pengobatan dalam jangka panjang. Sekresi hormone pertumbuhan kembali berlebihan setelah pemberian bromokriptin dihentikan. Bromokriptin juga menekan sekresi prolaktin yang berlebihan yang terjadi pada tumor hipofisis.
    Antagonis serotonin (5-HT) misalnya Siproheptadin dan metergolin, antagonis adrenergic misalnya pentolamin, juga dapat menghambat sekresi hormone pertumbuhan, tetapi efeknya lemah dan tidak konsisten. Somatostatin meskipun dapat menghambat sekresi hormone pertumbuhan, tidak digunkan untuk pengobatan akromegali terutama karena menghambat sekresi hormone-hormon lain.
INDIKASI
Selama ini, indikasi hormone pertumbuhan hanya dibatasi untuk dimengatasi kekerdilan akibat hipopituitarisme. Dengan ditemukannya cara rekayasa genetika untuk memproduksi hormone ini secara mudah dalam jumlah besar, ada kemungkinan penggunaannya untuk mengatasi gangguan pertumbuhan akan lebih luas. Efektivitas hormon ini pada defisiensi partial dan anak pendek ini yang normal hanya tampak diawal terapi untuk indikasi ini, sulit ditentukan siapa yang perlu diobati, kapan pengobatan dimulai dan kapan pengobatan berakhir. Juga perlu disertai penanganan psikologis, yang akan sangat penting artinya bila terapi gagal.
    Berbagai usulan dimunculkan dalam 10 tahun terakhir ini, antara lain anjuran penggunaan pada anak pendek yang tingginya dibawah 10% populasi dan berespons terhadap terapi hormone pertumbuhan yang dicobakan dulu selama 6 bulan. Bagaimanapun penggunaan hormone ini pada kasus tanpa defisiensi hormone berhadapan dengan pertimbangan ethis. Perlu pertimbangan manfaat resiko yang lebih luas yaitu bukan hanya mempertimbangkan resiko efek samping serius misalnya akromegali, gangguan kardiovaskular, gangguan metabolism glukosa yang terjadi pada kelebihan hormone endogen tetapi juga resiko kejiwaan pada kegagalan terapi (perubahan persepsi pendek normal menjadi abnormal).
    Dengan dibuatnya hormone ini, secara rekayasa genetic keterbatasan pengadaan tidak akan menjadi masalah lagi. Kalau factor biaya yang juga tidak menjadi masalah, perlu dipikirkan adanya batasan yang jelas mengenai indikasinya. Saat ini telah ada laporan penggunaan diluar indikasi yang telah jelas, misalnya penyalahgunaan obat atlet untuk mencapai tinggi dan bentuk badan tertentu dan pada orang lanjut usia untuk menghambat proses penuaan. Meskipun penelitian menunjukan bahwa hormone pertumbuhan menyebabkan hal-hal yang menguntungkan pada atlet dan orang lanjut usia yaitu penurunan jumlah jaringan lemah, peningkatan jaringan otot, peningkatan BMR, menurunan total kolestrol, peningkatan kekuatan isometric dan kemampuan kerja fisik, namun efeknya sebagai anti penuaan tetap dipertanyakan. Pada menchit, justru GH dan IGF-1 analog secara konsisten memperpendek umur. Pemakaian GH oleh atlet dilarang oleh komite olimpiade. Terapi hormone GH telah disetujui di USA untuk pasien yang kekurangan berat (wasting) karena AIDS, terapi ini bermanfaat untuk sebagian pasien tersebut.
    Hormon pertumbuhan perlu diberikan 3x seminggu selama masa pertumbuhan. Pada saat pubertas, perlu ditambahkan pemberian hormon kelamin agar terjadi pematangan organ kelamin yang sejalan dengan pertumbuhan tubuh. Evaluasi terapi dilakukan 6 bulan setelah pengobatan. Terapi dikatakan berhasil bila terlihat pertambahan tinggi minmal 5 cm. Tampaknya, pengobatan lebih berhasil pada mereka yang gemuk. Pertumbuhan sangat kecil atau hampir tidak ada pada usia 20-24 tahun. Resistensi, yang sangat jarang terjadi, biasanya disebabkan oleh timbulnya antibody terhadap hormone pertumbuhan, hal ini dapat diatasi dengan menaikan dosis. Di masa lalu, manfaat GH pada usia dewasa dengan defisiensi GH tidak pernah dibicarakan. Baru belakangan diketahui gejala-gejala obesitas umum, kurangnya masa otot dan curah jantung yang menurun akan berkurang dengan pemberian GH. Tahun 2004, GH diindikasikan untuk short-bowl syndrome yang tergantung pada total parenteral nutrition. Pemberiannya bersama glutamine, untuk memperbaiki pertumbuhan sel mukosa usus. Tahun 1993 di USA, rhGH diizinkan digunakan untuk meningkatkan produksi susu oleh sapi, tetapi karena sering terjadi mastitis, maka pemakaian antibiotic meningkat dan dikhawatirkan adanya residu antibiotic pada susu dan daging sapi.
SEDIAAN
    Hormon pertumbuhan yang dipergunakan dalam klinik saat ini adalah hasil rekayasa genetic. Penggunaan hormone hasil rekayasa genetic memperkecil kemungkinan efek samping yang ditimbulkan oleh bahan protein manusia yang belim tentu bebas penyakit. Hal ini menjadi masalah setelah ditemukannya kasus penyakit Creutzfeld-jacob yaitu degenerasi susunan saraf yang disebabkan oleh virus Creutzfeld-jacob yang sulit dideteksi sehingga kontaminasinya dalam sari hipofisis manusia tidak dapat dihindari. Kasus penyakit yang sangat jarang ini ditemukan pada pasien yang mendapat sediaan hormone pertumbuhan ekstraksi hipofisis manusia. Karena hal diatas, pada pertengahan 1985, beberapa Negara antara lain USA, telah melarang penggunaan sediaan sari hipofisis manusia.
    Ada 2 GH recombinan (rhGH) yang saat ini digunakan yaitu somatropin yang identik dengan GH manusia yang alaminya dan somatrem yang memiliki tambahan residu metioni. Keduanya diketahui memiliki potensi yang sama.
SOMATREM
Hormon pertumbuhan yang dihasilkan dengan cara rekayasa genetic ini memiliki satu gugus metionin tambahan pada terminal-N. Hal ini mungkin menjadi penyebab timbulnya antibody dalam kadar rendah terhdap sediaan ini pada ± 30% pasien, adanya antibody ini tidak mempengaruhi perangsangan pertumbuhan oleh hormone. Efek biologisnya sama dengan somatropin. 1mg Somatren setara dengan 2,6 iu hormone pertumbuhan.
KEGUNAAN KLINIK
Diindikasikan untuk defisiensi hormone pertumbuhan pada anak. Penggunaan pada defisiensi parsial dan anak pendek normal masih terus diteliti. Suntikan lepas lambat yang melepas obat perlahan-lahan dapat diberikan subkutan sebulan sekali. Ada pula preparat yang diberikan 3-6x seminggu. Kadar puncak dicapai dalam 2-4 jam dan kadar terapi bertahan 36 jam. Bila terapi tidak berhasil, setelah 6 bulan harus dihentikan.
Dosisnya harus disesuaikan kebutuhan perorangan, dan diberikan oleh spesialis. Dosis total seminggu dapat juga dibagi dalam 6-7 kali pemberian, beberapa penelitian menunjukan bahwa respon lebih baik bila obat diberikan tiap hari. Pengobatan diteruskan sampai terjadinya penutupan epifisis atau bila tak ada lagi respons.
EFEK SAMPING
Hiperglikemia dan ketosis (diabetogenik) bisa terjadi pada pasien dengan riwayat diabetes mellitus.

SOMATROPIN
Secara kimia identik dengan hormone pertumbuhan manusia tetapi dibuat dengan rekayasa genetic. Efek biologic sama tetapi tidak ada resiko kontaminasi virus penyebab penyakit Creutzfeld-jacob. Satu mg obat ini setara 2,6 iu hormone partumbuhan.
KEGUNAAN KLINIK
Sama dengan somatrem.
EFEK SAMPING DAN INTERAKSI OBAT
Pembentukan antibody hanya pada 2% pasien, antibody ini juga tudak menghambat efek perangsangan pertumbuhan. Glukokortikoid diduga dapat menghambat perangsangan pertumbuhan oleh hormone ini.
CARA PEMBERIAN
IM dan SC seperti somatrem, begitu bula lama pengobatan. Dosis maksimum dibagi menjadi 3x pemberian dalam seminggu, atau 6-7x pemberian dalam seminggu. Ada juga yang menggunakan dosis sama dengan somatrem. Telah diketahui bahwa umumnya pengobatan dengan hormon pertumbuhan menunjukan respon yang makin lama makin mennurun. Suatu penelitian menunjukan bahwa menaikan dosis pada saat respon menurun dapat kembali meningkatkan respon, tanpa efek samping pada metabolism karbohidrat maupun lipid. Penurunan respon mungkin juga disebabkan oleh penutupan epifisis atau ada masalah lain, misalnya malnutrisi atau hipotiroidisme. Saat penyuntukan mempengaruhi hasil. Penyuntikan pada malam hari kurang mempengaruhi pola metabolism (asam lemak rantai medium, serum alanin, laktat) dibandingkan pada pagi hari.
Categories:

0 komentar:

Poskan Komentar